Thursday, August 10, 2017

Kuis Film: Cari Tahu Film yang Cocok Buatmu

Sumber: pinterest

Sejatinya menonton film adalah sarana untuk mendapatkan hiburan. Hiburan itu kan artinya sesuatu yang dapat menghibur hati. Kalau habis nonton film tapi trus malah depresi atau ketakutan tuh enggak banget bagi saya. Udah bela-belain waktu buat nonton, kadang keluar biaya buat beli tiket, kudu bikin bahagia dong sesudahnya.

Nah kalau ditanya film favorit saya apa, jawabannya: banyak. Seperti tema Arisan Blog Gandjel Rel yang diusung oleh dua mbak blogger aktif Sri Untari : http://www.duniaqtoy.com/ dan Ira Sulistiana: http://www.irasulistiana.com/ Film favorit, artinya film yang saya tonton tidak hanya dua-tiga kali. Namanya favorit ya ditonton berulang-ulang. Bisa nonton berulang-ulang biasanya karena saya punya dvdnya, atau kalau dulu punya kaset videonya yang segede batu bata itu.

Kalau mau nonton yang mana, tergantung mood. Kebanyakan sih memang film favorit saya itu ada hubungannya sama film yang saya tonton waktu kecil. Jaman di mana acara tivi baru mulai sore hari, dan kartun cuma ada di hari Minggu, jadilah nonton film di video hiburan yang paling menyenangkan.

Kemarin nih, baru aja saya nonton lagi salah satu film favorit saya masa kecil di Cinemax: The Goonies. Film ini kisahnya tentang sekelompok anak penggemar petualangan yang menamakan diri Goonies. Mereka harus berlomba dengan sekelompok penjahat untuk mencari harta karun yang tersembunyi di bawah tanah. Seneng banget dulu nonton film ini.

Film favorit lain semasa kecil berhubungan sama film buatan Jepang seperti Google V, Gaban dan Sharivan. Ditambah lagi kartun-kartun dari Disney seperti Lady and The Tramp, Donald, Mickey dan Goofy. Apa mau dikata nggak banyak kan film anak-anak buatan Indonesia di masa itu. Lucunya waktu saya lagi hamil anak pertama, ngidamnya adalah nonton film kartun Disney. Saya sampai ngumpulin dvd film-film yang lama, beli yang baru, lalu nonton Chip and Dale dan Cinderella sepanjang waktu luang.

Kalau serial televisi favorit dihitung film, berarti serial si Doel Anak Sekolahan dan Girlmore Girls termasuk film yang favoriiiit banget. Sayangnya saya nggak punya DVD Si Doel, jadi nggak bisa nonton kapanpun saya mau. Keduanya menyajikan kisah keluarga dalam alur yang mengalir dan wajar. Pokoknya film yang bagus itu buat saya yang kisahnya less drama. Benar-benar bikin hati enteng dan gembira waktu nontonnya.

Kalau kamu habis nonton film malah bad mood, barangkali film yang kamu tonton sebetulnya tidak cocok buatmu. Emangnya nonton film mesti pakai cocok-cocokan segala? Tentuu… (ketawa ngikik). Nah bagaimana caranya tahu film apa yang cocok? Coba jawab pertanyaan-pertanyaan bikinan saya yang sudah melalui aneka ‘persemedian’ super serius berikut ini, untuk tahu, film macam apa sih yang cocok buatmu.

1. Kalau kamu sedang marah, hal apa yang paling ingin kamu lakukan untuk meredakan emosi?

a. Belanja ke Mal
b. Makan es krim di gerai favorit
c. Olah raga
d. Menyepi di hutan

2. Apa hari favoritmu sepanjang minggu?

a. Senin
b. Sabtu
c. Minggu
d. Kamis

3. Siapa aktor di bawah ini yang paling kamu sukai?

a. Abimana Aryasatya
b. Tora Sudiro
c. Iko Uwais
d. Arifin C Putra

4. Apa warna favoritmu?

a. Biru
b. Oranye
c. Merah
d. Hitam

5. Kalau ada kesempatan, kamu lebih suka menghabiskan akhir pekan dengan melakukan kegiatan:

a. Ke toko buku
b. Bermain ke wahana taman hiburan terbaru
c. Menonton off road
d. Hunting foto di kota lama

6. Kamu membayangkan dirimu paling pas tinggal di tempat ini:

a. New York
b. Indonesia
c. Jepang
d. Alaska

7. Makanan yang paling ingin dimakan saat ini:

a. Sepotong kue coklat
b. Es Krim
c. Steak daging sapi
d. Sate ayam


Nah, sudah dicatat ya, jawabannya. Sekarang tinggal dihitung, jawaban mana yang palling banyak kamu pilih. Jika jawabanmu paling banyak:

A. Film Drama

Kamu adalah orang yang aktif dan dinamis dan menyukai suasana perkotaan yang sibuk. Film yang cocok buatmu adalah film drama seperti “The Devil Wears Prada”. Kenapa saya sebut film itu, karena semenjak punya DVDnya, nggak bosan-bosannya, saya nonton film ini. Yang paling saya suka sebetulnya settingnya. Belum lagi akting Meryl Streep yang meski main di film “biasa” tetap menuai pujian di sana-sini.

B. Film Komedi

Kamu orang yang santai dan humoris. Maka film yang cocok untukmu adalah film komedi. Coba nonton film “Warkop DKI Reborn” atau kalau mau mencari film jadul ada film favorit saya nih, buatan tahun 80an judulnya: “Apanya Dong” karya sutradara Nya Abbas Akup. Salah satu bintangnya adalah TItiek Puspa, Kang Ibing, Aom Kusman, Mama Hengky dan Surayana Fatah. Filmnya absurd dan lucu banget. Meski begitu ada pesan-pesan sosial di dalamnya.

C. Film Action

Kamu adalah orang yang suka tantangan dan aktivitas di luar ruangan. Kamu akan menikmati film-film action, kungfu, dan peperangan. Salah satu film action made in Indonesia yang sudah dikenal dunia adalah: “The Raid”. Atau kalau film kungfu yang sering saya tonton masa kecil adalah Kungfu Master dari angka seri satu sampai tak terhingga hehehe. Mulai dari bintang utamanya masih Jet Lee sampai ganti jadi siapaa gitu.

D. Film Horor

Kamu memang misterius dan tercermin dalam penampilan dan pembawaanmu yang tidak biasa. Kamu menikmati banget ketegangan dalam film horor macam “The Doll” atau film-film horor lainnya. Dan saya nggak bisa kasih rekomendasi lebih karena nggak suka nonton film horor karena takut akan terbayang-bayang selama berhari-hari. Dulu waktu kecil ada film mandarin yang menampilkan hantu yang lompat-lompat lalu baru bisa berhenti kalau ditempel kertas. Ya, itu kenangan film horor yang aslinya nggak saya nikmati sama sekali.


Nah, gimana, cocok kan?


Sunday, July 30, 2017

Merasa Hidupmu Penuh Derita? Baca Buku Ini Dulu


Belajar Bersyukur dengan Membaca

Hati manusia akan mudah tersentuh oleh kisah. Seperti juga aneka kisah dalam buku, yang bisa membuat kita tertawa, marah, dan sedih hanya dengan membacanya. Tak jarang kisah-kisah dalam buku, baik itu nyata ataupun tidak, menjadi inspirasi kita dan terbawa dalam kehidupan kita sehari-hari. Seperti tema dari Mbak Vita http://www.pusvitasari.com seorang blogger yang  aktif dan rajin, juga mbak Anita di http://www.makarame.com seorang blogger yang juga pembuat aneka kerajinan daur ulang.

Dari sedikit buku yang pernah saya baca, saya memilih buku ini. Buku berjudul: “Totto-chan’s Children, A Goodwill Journey to the Children of the World” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi: “Anak-anak Totto-chan, Perjalanan Kemanusiaan untuk Anak-anak Dunia”

Buku ini ditullis oleh Tetsuko Kuroyanagi, atau lebih kita kenal sebagai Totto-chan dalam bukunya yang mungkin lebih dikenal orang: “Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela”. Kisah Totto chan di sekolahnya yang begitu manis dan lucu, sangat membekas di hati saya. Meskipun ada derita yang terselip karena perang dunia ke-2 yang Totto alami pada waktu itu, tetapi cerita kelas di dalam gerbong kereta, berenang, makan bersama, sungguh menginspirasi saya, dan membuat saya pernah bermimpi punya sekolah seperti itu. 
Buku Tetsuko yang lebih dikenal.
Tapi saya memilih buku yang lain. Buku Totto-chan yang saya kenal sebagai anak Jepang yang lucu yang sekolahnya begitu mengagumkan, ketika menjadi Duta Kemanusiaan UNICEF selama kurun waktu 1984 – 1997. 
"Di negara-negara yang mengalami kekeringan hebat atau terkena dampak perang, anak-anak yang sebenarnya masih polos dan tak berdosa selalu jadi korban. Ternyata masih banyak sekali anak-anak dunia yang tidak bisa makan, tidak bisa sekolah, tidak bisa dirawat ketika sakit, bahkan mengalami trauma hebat akibat perang."


“Orang dewasa meninggal sambil mengerang, mengeluhkan rasa sakit mereka. Tapi anak-anak hanya diam. Mereka mati dalam kebisuan, di bawah daun-daun pisang, memercayai kita, orang-orang dewasa.”
Kata-kata seorang kepala desa di Tanzania pada Tetsuko Kuronayagi atau lebih dikenal sebagai “Toto Chan” sangat membekas dan tak pernah dapat dia lupakan. 



Buku Tetsuko, (sepertinya memang lebih enak disebut Totto chan)  yang ini, menuliskan kisah-kisah yang memilukan. Sangat sedih. Ketika saya pertama kali membacanya di tahun 2010, seketika saya merasa malu pada diri saya sendiri. Karena (ini disclaimer), buku ini penuh derita. Man! Dunia bisa demikian kejamnya pada sosok-sosok kecil mungil bernama anak-anak. Allah tentu akan menghadirkan kebahagiaan bagi mereka kelak di akhirat, tapi di dunia ini, kisah-kisah anak-anak itu, sesungguhnya adalah pelajaran yang nyata bagi saya. 

Saya akan bercerita tentang buku ini dalam konteks bersyukur. Karena sungguh saya sadari, karena begitu lebaynya, kadang saya merasa bahwa hidup ini penderitaan. Hari-hari dilalui dengan keluh kesah. Padahal setelah membaca buku ini, saya seperti 'digaplok', yang saya aku-aku sebagai 'derita' itu, tidak ada apa-apanya, bahkan tak patut disebut derita.
 
Buku ini perlu dibaca, dan dibaca lagi. Kapanpun saya lupa hingga kurang bersyukur, betapa baiknya nasib saya dibandingkan anak-anak di sana.

 
Ijinkan saya membaginya sedikit. Betapapun sederhana, dan sungguh hanya pelajaran kecil dari dalamnya masalah hidup yang anak-anak itu alami.


Hargailah air bersih walau seteguk saja.
"Ketika menggali lubang di sungai yang mengering, anak-anak menunggu sampai lubang itu dipenuhi air. Setelah meminumnya sedikit, mereka menaruh air yang tersisa di dalam periuk-periuk untuk dibawa pulang."
Anak-anak di Tanzania pada puncak kekeringan yang parah bisa mengalami setahun atau bahkan lebih tanpa hujan. Untuk mendapatkan secangkir air berwarna kecoklatan seperti susu mereka harus berjalan hampir 5 kilometer, (ada yang lebih dari 15 kilometer) dan menanti selama berjam-jam. Mereka harus bekerja sedemikian keras untuk hal yang dengan mudahnya kita sisakan lalu dibuang dari gelas air minum kita.

Meski dalam keadaan begitu kekurangan, mereka, anak-anak itu tetaplah murah hati, tertib mengantri, dan bahkan membagi tetes air berharga itu untuk Totto-chan yang datang berkunjung. 

Bersyukur dengan tubuh yang sehat
"Aku belum pernah melihat anak sekurus ini, ia harus berjalan dengan segenap tenaga."

Di Etiopia, tahun 1992, saat Totto-chan berkunjung kesana, ada begitu banyak pengungsi, sementara makanan sangat terbatas. Anak-anak baru akan mendapat jatah makanan hanya jika berat badannya kurang dari 70 persen standar berat untuk umur dan tinggi badannya. Misalnya seorang bayi seharusnya berat badannya 5,5 kg, tetapi beratnya tidak sampai 4 kg akan menerima jatah. 

Setelah ditimbang, mereka akan memakai gelang kertas sebagai penanda untuk mengambil jatah makanan di tenda berikutnya. Jatah makanan ini jangan dibayangkan seperti posyandu di Indonesia, yang setidaknya ada menu buah, bubur kacang hijau, bahkan kadang nasi lengkap dengan sayur dan lauk pauk. Di sana anak-anak itu mendapat campuran tepung gandum, tepung jagung, tepung kedelai dan air sungai yang direbus sampai menjadi bubur yang encer. 

Jika anak-anak itu kemudian esok berat badannya sedikiit saja di atas 70% dari standar, maka berarti esok meraka harus kelaparan, karena tak ada jatah bubur yang encer itu untuk mereka. 

Dengan berat tubuh jauh dari kriteria sehat seperti itu, anak-anak menjadi tidak punya energi. Jangankan untuk berjalan atau bermain, untuk sekedar mengangkat kepala saja sudah kepayahan. 

Di sini, saya sendiri, sudah kelabakan jika angka di timbangan sedikiit saja bergeser ke kanan. Kurus menjadi idaman. Tubuh yang semakin melebar menjadi sumber depresi. Sehingga lupa mensyukuri bahwa tubuh yang sehat ini adalah anugerah. 

Bersyukur dengan Hidangan di Atas Meja

Sesederhana apapun menu makanan kita, tentu masih lebih baik dibandingkan dengan apa yang anak-anak yang dikunjungi Totto-chan. Anak-anak di Etiopia makan bubur encer (yang bahkan tidak tiap kali mereka dapatkan). Kekurangan gizi terjadi di mana-mana. Tak sepatutnya saya berkeluh hanya jika suatu waktu makanan yang terhidang kurang cocok dengan selera. Sungguh tak pantas.

Senanglah dengan Belajar

Seringkali, belajar di sekolah, di kampus, di manapun, dianggap menjadi kewajiban dan beban. Karena tantangan sedikit saja, seperti tugas yang dirasa banyak, guru yang sepertinya galak, sudah membuat malas, mogok, dan seterusnya.Semua hanya karena alasan-alasan yang tidak sebanding dengan manfaat yang didapat dari berjuang untuk mendapatkan ilmu. 

Dari cerita Totto-chan dalam kondisi perang dan serba kekurangan, anak-anak tidak bisa bersekolah dengan layak. Di sekolah dasar di Tanzania, anak-anak bahkan kebingungan ketika diminta untuk menggambar binatang. Padahal mereka tinggal di Afrika, tempat yang kita tahu ada gajah, jerapah, dan aneka satwa liar lainnya. Hanya ada satu anak yang menggambar lalat. Dan anak-anak lainnya hanya menggambar ember, cangkir, dan benda sejenisnya. Tidak ada kebun binatang, televisi, bahkan sekedar buku gambar. 

Di Bangladesh anak-anak hanya memiliki sedikit waktu untuk bersekolah karena mereka harus bekerja. Di sini saya tidak harus berjibaku dengan peluru untuk mencapai sekolah. Di sini sarana belajar dari buku, televisi, internet, mudah didapatkan. Mengapa malas belajar?

Bersyukurlah tinggal di negeri yang damai, dan berusahalah tetap menjaganya!

Salah satu yang paling membuat saya ngeri ketika membaca buku ini, bahwa buruknya keadaan anak-anak di berbagai negara adalah karena konflik yang berkepanjangan. Perang saudara, perebutan kekuasaan, apapun itu selalu memakan korban, dan yang menderita adalah anak-anak. 

Ditulis Totto Chan, dari perjalanannya ke Angola pada tahun 1989, betapa konflik telah begitu kejam. “Anak-anak kecil diikat dengan tali di pohon, dan tentara gerilya memotong tangan tawanan muda itu dengan golok. Anak-anak ditinggalkan sampai mati. Yang selamat berakhir sebagai yatim piatu yang cacat, …”

Di wilayah yang lain, pengungsi anak-anak justru dijadikan alat pendeteksi ranjau darat. Anak-anak yang yatim piatu akan disuruh berjalan di depan rombongan pengungsi lain. Tentu saja anak itu akan tewas jika menginjak ranjau yang masih bertebaran di kawasan konflik, ketika mereka dengan polosnya bangga berjalan di depan.  

Di Bosnia, bom diletakkan di dalam boneka milik anak-anak. 
 
Saya sungguh bersyukur, tinggal di masa di mana Indonesia begitu damai. Sungguh ingin bisa tetap menjaganya. Tak pantaslah kita mudah terpancing oleh aneka isu yang hanya ingin menyulut kebencian dan konflik. Kekerasaan yang mengatasnamakan apapun itu, saya sungguh berharap tidak terjadi lagi.



Hiks.

Bahkan sekian kali membacanya, air mata tak bisa ditahan, hati saya selalu deg-deg-an. Meski kejadian yang dituliskan Tetsuko sudah belasan bahkan puluhan tahun yang lalu, bukan tidak mungkin masih terjadi di sana atau di tempat lain. 

Semoga keadaan sekarang sudah lebih baik dan akan menjadi baik. 

(Buat yang ingin baca buku ini, sila cari di tobuk terdekat baik online maupun offline. Boleh juga ke rumah saya untuk dibaca di tempat, atau pinjam dengan deposit yang bikin kapok kalau bukunya tidak dikembalikan. Hehe.)

 




Thursday, June 22, 2017

Bersama ASUS E202 - Tetap Produktif Untuk yang Kreatif


Suatu pagi ketika sedang liburan akhir tahun di pinggir kali (mau tubing) ponsel berbunyi: *suara musik*

“Mbak, saya minta dibuatkan SPH (Surat Penawaran Harga) dan dikirim siang nanti ya.”

Atau dalam perjalanan di mobil ada WA masuk:

“Da (Winda), gambar ruko yang kemarin itu dibuat sekalian sama proposalnya. Diemail hari ini, ya.”  
(Ini order dari pak Bos Babe dari Jakarta)

“Tolong buatkan surat ijin masuk site, Bu, urgent,” teriak orang lapangan. 

“Bu, dokumen sudah di approve, bisa segera kirim invoice ya, sebelum tutup buku.”

Atau di luar itu semua waktu saya lagi bengong jemput sekolah anak-anak: Ting! Dapet ide menulis. Ah, tapi nggak bisa langsung diketik, entar aja deh di rumah. Dan begitu sampai rumah, lupa!

Ehm, memang banyak aktivitas random dalam keseharian saya. Hehe. Sebagai arsitek kambuhan, "tukang outbound", punya usaha kecil merangkap aneka jabatan di kantor, banyak hal yang harus dikerjakan sendiri. Selain pekerjaan yang berhubungan dengan gambar dan mendesain rumah, sampai yang berurusan dengan dokumen dan surat menyurat. Ada lagi kegiatan membantu Bos Babe yang membuat saya harus cepat mengirim aneka gambar, presentasi, surat, proposal, dokumen apapun yang bapak saya butuhkan. Belum lagi aktivitas menulis yang meskipun baru berani dibilang hobi, tapi ada juga deadline di sana-sini. 

Tidak jadi masalah kalau saya sedang stand by di dekat PC (Personal Computer), tempat semua data-data kantor, keluarga, dan pribadi dari jaman kuliah tersimpan. Berada di dekat PC, membuat saya selalu siap jika ada pekerjaan dadakan. Belum lagi aplikasi-aplikasi yang sering saya gunakan untuk bekerja, dari CAD (Computer Aided Design – piranti lunak untuk mendesain rumah-) sampai aplikasi e-faktur dari kantor pajak, lengkap di sana semua. PC juga aman terkoneksi dengan internet, jadi gampang untuk cari referensi sekaligus kirim dokumen kemanapun. 

Saya memang rada posesif sama PC saya. Soalnya andalan banget sih. Gara-gara itu juga, sering saya bela-belain bawa PC dan uborampenya yang seabrek itu jika ke luar kota dalam jangka waktu yang lama.
Sungguh ribet dan nggak praktis, memang.

Tapi jika dalam kondisi jauh dari PC, berkat kerjaan yang bisa dibilang serabutan dan campur aduk itu, saya sering kerepotan sendiri. Sekedar ada orang minta dikirimin surat, bisa diatasi dengan smartphone. Tapi kalau sudah menyangkut pekerjaan desain, gambar, proposal, presentasi, tulisan yang panjang, apalagi bikin invoice dan faktur, smartphone tentunya tidak maksimal membantu.

Memang kudunya saya punya notebook, yang bisa mendukung saya mengerjakan semua hal di atas. Apalagi belakangan saya cukup sering bepergian yang mengharuskan saya bekerja di luar kota. Masa iya mau nggembol PC ke mana-mana? Trus kalau nggak ada PC, nggak bisa kerja? Mesti terus produktif dong ah!

Oke, saatnya cari notebook yang andal, mudah dan praktis di bawa bepergian, punya performa yang bagus sehingga bisa menjalankan berbagai aplikasi yang saya butuhkan, bisa menampung data saya yang seabrek-abrek, dan yang nggak boleh ketinggalan, ekonomis. Lebih bagus lagi, kalau notebooknya kece.

"Ehm, Mbak, makanya punya ini dong, kayak saya."
Eh, mas-mas yang pake kacamata, bawa apa tuh?

Wah, usut punya usut, itu notebook ASUS seri E202. Sepertinya cocok nih, buat saya. Saatnya mencari info tentang notebook yang satu ini. 

PRAKTIS DIBAWA KEMANA-MANA


Pakai tas cantik, bisa tetap produktif bawa ASUS E202
Wah ini nih yang jadi catatan pertama saya tentang ASUS E202. Notebook ini bobotnya sangat ringan yaitu cuma 1,21 kg. Ditambah lagi dimensinya hanya 193 x 297mm, yang tidak lebih besar dari kertas berukuran A4. Artinya? Pas banget dimasukkan ke dalam tas. Nggak perlu ribet bawa tas ransel atau tas gede yang suka bikin penampilan kita kayak mau ikutan seminar berhari-hari. ASUS E202 bisa muat ke dalam ke tas cantik dan ikut hang out kemanapun. Enteng pula!

DAYA TAHAN BATERAI OKE BANGET
Yang kedua, apalah artinya punya notebook kalau setiap mau dipakai kudu nempel sama colokan listrik. Nah, ASUS E202 ini punya baterai awet yang bisa tahan sampai delapan jam. Yoi, catat: D E L A P A N jam. Pasti aman nih kalau butuh kerja selama di perjalanan, atau pas lagi jemput anak-anak pulang sekolah, atau pas di pinggir kali seperti awal cerita ini. Hehe. Jadi nggak bengong lagi dan yang pasti tetap produktif. 

PERLENGKAPAN KOMPLIT
Walau ukurannya minimalis, ASUS E202 ini dilengkapi dengan USB port, sebuah micro HDMI port, dan slot MicroSD. Salah satu USB portnya adalah USB 3.1 tipe C. USB 3.1 tipe C ini sangat menghemat waktu, dapat dicolok dengan berbagai arah dengan colokan reversible setiap saatnya. Kecepatan transfernya juga 11 kali lebih cepat dibandingkan dengan USB 2. Cocok buat saya yang sering mindah-mindahin data dari hardisk eksternal dan flashdisk ke notebook. 

Masnya asyik banget kerja pakai ASUS E202
Ada slot micro SDnya pula, jadi praktis kalau ingin memindahkan data dari ponsel. Biasanya tuh saya suka ribet mindahin foto-foto kerjaan untuk disatukan dalam dokumen laporan kerja gitu. Pakai slot micro SD ini pekerjaan saya akan lebih mudah dan cepat.
Colokan HDMI-nya juga akan memudahkan saya ketika harus menampilkan dokumen ke layar LCD. Ini penting banget untuk presentasi di kantor. Kualitas gambarnya pasti jadi lebih tajam.

RUANG PENYIMPANAN BESAR DAN PROSESOR CANGGIH
Selanjutnya yang penting adalah seberapa banyak data-data dapat disimpan dengan aman di notebook. Dengan aneka pekerjaan serabutan tadi, saya jadi perlu banyak tampat untuk menyimpan data. 

Nah ASUS E202 punya kapasitas penyimpanan sampai 500 GB. Wah, cukup untuk menyimpan semua data-data saya nih. Selain data-data kantor, foto-foto pribadi dari jaman langsing sampai jaman kurang langsing, juga video favorit bisa tersimpan dengan aman. Enaknya semua bisa diakses ketika berada di mana aja. Nggak lagi harus nempel sama PC. –Mulai nggak posesif sama PC hehe-

Selain itu untuk memenuhi kebutuhan bekerja dengan beraneka piranti lunak seperti CAD dan Corel, ASUS E202 juga dapat diandalkan. Dipersenjatai dengan Intel® processor terbaik, notebook yang satu ini bisa memberikan performa yang oke ketika mengerjakan aneka pekerjaan saya. Support multitasking banget nih. Ngetik cerpen atau mendesain rumah sambil browsing, sambil sesekali intip video favorit, akan tetap lancar. No lemot!

TEKNOLOGI WIFI TERBARU
Sehari-harinya pekerjaan saya sering berhubungan dengan pihak-pihak lain di berbagai tempat. Belum lagi data-data yang harus diunggah atau diunduh dari internet. Jadi, punya notebook yang terkoneksi lancar dengan internet is a must! ASUS E202 ini punya teknologi WiFi terbaru 802.11ac yang kecepatannya nyaris tiga kali lipat dari 802.11n. Browsing, streaming, download pasti lancar jaya!

Sambil santai begini, masnya tetap produktif, euy!
SMART GESTURE dan DURABLE KEYBOARD
Sebenarnya ya, hal lain yang membuat saya susah lepas dari bekerja pakai PC adalah karena alasan keyboard dan mouse. Keyboard di PC saya udah sehati sama jemari lentik sehingga bisa mengetik dalam kecepatan tinggi hihi. Dan untuk keperluan desain dan gambar rumah, mouse jadi benda yang sangat penting untuk “klak-klik” di dalam aplikasi dengan presisi. Kalau pakai notebook kadang touchpadnya sulit “dikendalikan”.

Tapi ternyata ASUS E202 punya keyboard yang nyaman digunakan, dengan jarak antar keyboard 1,66mm yang membuat proses mengetik lebih nyaman. Dan nggak usah takut karena keyboard ini kokoh dan tahan sampai 10 juta kali pengetikan. Jemari lentik bisa menari dengan aman.  

Touchpad besar dan responsif, nyaman untuk bekerja.
Nah, istimewanya lagi, touchpadnya yang sangat responsif, macam layar smartphone aja. Dan akurasinya tinggi. Hm, nggak perlu khawatir ya “meleset-meleset” ketika “klak-klik”. Belum lagi ukurannya lebih besar dibandingkan touchpad pada notebook lainnya yang berukuran sama. Ini karena fitur teknologi ASUS Smart Gesture sehingga touchpadnya lebih intuitive dan memiliki banyak fungsi macam layar smartphone.

PENAMPILANNYA KECE

Nah, kemampuan notebook yang satu ini memang tidak usah diragukan lagi, tapi karena notebook ini akan jadi benda yang nempel sama saya kemana-mana, rasanya pengen dong ditemani sama yang punya penampilan kece. Biar makin semangat kerjanya. 

ASUS E202 ini penampilannya simpel, elegan dengan desain tipis dan fanless. Artinya ketika dinyalakan nggak bunyi-bunyi berisik. Nah, notebook yang hadir dalam versi Windows 10 dan juga DOS ini tersedia dalam pilihan warna Silk White, Dark Blue, Lightning Blue dan Red Rouge.

Semua pilihan warnanya kece banget!
Tinggal pilih deh, mana yang sesuai dengan kepribadian masing-masing. Konon, warna favorit bisa menunjukkan karakter seseorang. Misalnya orang yang menyukai warna biru berarti cerdas dan dapat dipercaya, sementara penyuka warna merah adalah pribadi yang percaya diri dan ekspresif. Sedang penyuka warna putih adalah pribadi yang penuh kehati-hatian dan prefeksionis.

Tapi melihat empat pilihan warna kece ASUS E202 bikin saya pengen punya semuanya! Hehe. Kalau kamu suka yang mana?  

EKONOMIS
Wah, puas deh dengan informasi tentang (calon) notebook andalan saya ini. Eh tapi tunggu dulu, dengan aneka kelebihan dan performa mumpuni di atas, harganya bikin tabungan jebol nggak nih? Ternyata aman, Mbak dan Mas! ASUS E202 bisa dipinang dengan harga tiga jutaan rupiah saja. Ah, legaa... Ekonomis ya!

Bakal lebih produktif dan kreatif dengan ASUS E202
Hmm kalau begini nggak perlu ditunda terlalu lama kayaknya untuk punya notebook ini. Saya nggak pengen lagi ide menulis menguap, kerjaan gambar rumah nggak selesai, atau telat kirim invoice (penting nih! Hihi) ketika jauh dari PC. Kan ada ASUS E202.

Saya semakin yakin, dengan Notebook ASUS E202, bisa tetap produktif dan kreatif di mana-mana!

Blog Competition ASUS E202 by uniekkaswarganti.com