Thursday, June 22, 2017

Bersama ASUS E202 - Tetap Produktif Untuk yang Kreatif


Suatu pagi ketika sedang liburan akhir tahun di pinggir kali (mau tubing) ponsel berbunyi: *suara musik*

“Mbak, saya minta dibuatkan SPH (Surat Penawaran Harga) dan dikirim siang nanti ya.”

Atau dalam perjalanan di mobil ada WA masuk:

“Da (Winda), gambar ruko yang kemarin itu dibuat sekalian sama proposalnya. Diemail hari ini, ya.”  
(Ini order dari pak Bos Babe dari Jakarta)

“Tolong buatkan surat ijin masuk site, Bu, urgent,” teriak orang lapangan. 

“Bu, dokumen sudah di approve, bisa segera kirim invoice ya, sebelum tutup buku.”

Atau di luar itu semua waktu saya lagi bengong jemput sekolah anak-anak: Ting! Dapet ide menulis. Ah, tapi nggak bisa langsung diketik, entar aja deh di rumah. Dan begitu sampai rumah, lupa!

Ehm, memang banyak aktivitas random dalam keseharian saya. Hehe. Sebagai arsitek kambuhan, "tukang outbound", punya usaha kecil merangkap aneka jabatan di kantor, banyak hal yang harus dikerjakan sendiri. Selain pekerjaan yang berhubungan dengan gambar dan mendesain rumah, sampai yang berurusan dengan dokumen dan surat menyurat. Ada lagi kegiatan membantu Bos Babe yang membuat saya harus cepat mengirim aneka gambar, presentasi, surat, proposal, dokumen apapun yang bapak saya butuhkan. Belum lagi aktivitas menulis yang meskipun baru berani dibilang hobi, tapi ada juga deadline di sana-sini. 

Tidak jadi masalah kalau saya sedang stand by di dekat PC (Personal Computer), tempat semua data-data kantor, keluarga, dan pribadi dari jaman kuliah tersimpan. Berada di dekat PC, membuat saya selalu siap jika ada pekerjaan dadakan. Belum lagi aplikasi-aplikasi yang sering saya gunakan untuk bekerja, dari CAD (Computer Aided Design – piranti lunak untuk mendesain rumah-) sampai aplikasi e-faktur dari kantor pajak, lengkap di sana semua. PC juga aman terkoneksi dengan internet, jadi gampang untuk cari referensi sekaligus kirim dokumen kemanapun. 

Saya memang rada posesif sama PC saya. Soalnya andalan banget sih. Gara-gara itu juga, sering saya bela-belain bawa PC dan uborampenya yang seabrek itu jika ke luar kota dalam jangka waktu yang lama.
Sungguh ribet dan nggak praktis, memang.

Tapi jika dalam kondisi jauh dari PC, berkat kerjaan yang bisa dibilang serabutan dan campur aduk itu, saya sering kerepotan sendiri. Sekedar ada orang minta dikirimin surat, bisa diatasi dengan smartphone. Tapi kalau sudah menyangkut pekerjaan desain, gambar, proposal, presentasi, tulisan yang panjang, apalagi bikin invoice dan faktur, smartphone tentunya tidak maksimal membantu.

Memang kudunya saya punya notebook, yang bisa mendukung saya mengerjakan semua hal di atas. Apalagi belakangan saya cukup sering bepergian yang mengharuskan saya bekerja di luar kota. Masa iya mau nggembol PC ke mana-mana? Trus kalau nggak ada PC, nggak bisa kerja? Mesti terus produktif dong ah!

Oke, saatnya cari notebook yang andal, mudah dan praktis di bawa bepergian, punya performa yang bagus sehingga bisa menjalankan berbagai aplikasi yang saya butuhkan, bisa menampung data saya yang seabrek-abrek, dan yang nggak boleh ketinggalan, ekonomis. Lebih bagus lagi, kalau notebooknya kece.

"Ehm, Mbak, makanya punya ini dong, kayak saya."
Eh, mas-mas yang pake kacamata, bawa apa tuh?

Wah, usut punya usut, itu notebook ASUS seri E202. Sepertinya cocok nih, buat saya. Saatnya mencari info tentang notebook yang satu ini. 

PRAKTIS DIBAWA KEMANA-MANA


Pakai tas cantik, bisa tetap produktif bawa ASUS E202
Wah ini nih yang jadi catatan pertama saya tentang ASUS E202. Notebook ini bobotnya sangat ringan yaitu cuma 1,21 kg. Ditambah lagi dimensinya hanya 193 x 297mm, yang tidak lebih besar dari kertas berukuran A4. Artinya? Pas banget dimasukkan ke dalam tas. Nggak perlu ribet bawa tas ransel atau tas gede yang suka bikin penampilan kita kayak mau ikutan seminar berhari-hari. ASUS E202 bisa muat ke dalam ke tas cantik dan ikut hang out kemanapun. Enteng pula!

DAYA TAHAN BATERAI OKE BANGET
Yang kedua, apalah artinya punya notebook kalau setiap mau dipakai kudu nempel sama colokan listrik. Nah, ASUS E202 ini punya baterai awet yang bisa tahan sampai delapan jam. Yoi, catat: D E L A P A N jam. Pasti aman nih kalau butuh kerja selama di perjalanan, atau pas lagi jemput anak-anak pulang sekolah, atau pas di pinggir kali seperti awal cerita ini. Hehe. Jadi nggak bengong lagi dan yang pasti tetap produktif. 

PERLENGKAPAN KOMPLIT
Walau ukurannya minimalis, ASUS E202 ini dilengkapi dengan USB port, sebuah micro HDMI port, dan slot MicroSD. Salah satu USB portnya adalah USB 3.1 tipe C. USB 3.1 tipe C ini sangat menghemat waktu, dapat dicolok dengan berbagai arah dengan colokan reversible setiap saatnya. Kecepatan transfernya juga 11 kali lebih cepat dibandingkan dengan USB 2. Cocok buat saya yang sering mindah-mindahin data dari hardisk eksternal dan flashdisk ke notebook. 

Masnya asyik banget kerja pakai ASUS E202
Ada slot micro SDnya pula, jadi praktis kalau ingin memindahkan data dari ponsel. Biasanya tuh saya suka ribet mindahin foto-foto kerjaan untuk disatukan dalam dokumen laporan kerja gitu. Pakai slot micro SD ini pekerjaan saya akan lebih mudah dan cepat.
Colokan HDMI-nya juga akan memudahkan saya ketika harus menampilkan dokumen ke layar LCD. Ini penting banget untuk presentasi di kantor. Kualitas gambarnya pasti jadi lebih tajam.

RUANG PENYIMPANAN BESAR DAN PROSESOR CANGGIH
Selanjutnya yang penting adalah seberapa banyak data-data dapat disimpan dengan aman di notebook. Dengan aneka pekerjaan serabutan tadi, saya jadi perlu banyak tampat untuk menyimpan data. 

Nah ASUS E202 punya kapasitas penyimpanan sampai 500 GB. Wah, cukup untuk menyimpan semua data-data saya nih. Selain data-data kantor, foto-foto pribadi dari jaman langsing sampai jaman kurang langsing, juga video favorit bisa tersimpan dengan aman. Enaknya semua bisa diakses ketika berada di mana aja. Nggak lagi harus nempel sama PC. –Mulai nggak posesif sama PC hehe-

Selain itu untuk memenuhi kebutuhan bekerja dengan beraneka piranti lunak seperti CAD dan Corel, ASUS E202 juga dapat diandalkan. Dipersenjatai dengan Intel® processor terbaik, notebook yang satu ini bisa memberikan performa yang oke ketika mengerjakan aneka pekerjaan saya. Support multitasking banget nih. Ngetik cerpen atau mendesain rumah sambil browsing, sambil sesekali intip video favorit, akan tetap lancar. No lemot!

TEKNOLOGI WIFI TERBARU
Sehari-harinya pekerjaan saya sering berhubungan dengan pihak-pihak lain di berbagai tempat. Belum lagi data-data yang harus diunggah atau diunduh dari internet. Jadi, punya notebook yang terkoneksi lancar dengan internet is a must! ASUS E202 ini punya teknologi WiFi terbaru 802.11ac yang kecepatannya nyaris tiga kali lipat dari 802.11n. Browsing, streaming, download pasti lancar jaya!

Sambil santai begini, masnya tetap produktif, euy!
SMART GESTURE dan DURABLE KEYBOARD
Sebenarnya ya, hal lain yang membuat saya susah lepas dari bekerja pakai PC adalah karena alasan keyboard dan mouse. Keyboard di PC saya udah sehati sama jemari lentik sehingga bisa mengetik dalam kecepatan tinggi hihi. Dan untuk keperluan desain dan gambar rumah, mouse jadi benda yang sangat penting untuk “klak-klik” di dalam aplikasi dengan presisi. Kalau pakai notebook kadang touchpadnya sulit “dikendalikan”.

Tapi ternyata ASUS E202 punya keyboard yang nyaman digunakan, dengan jarak antar keyboard 1,66mm yang membuat proses mengetik lebih nyaman. Dan nggak usah takut karena keyboard ini kokoh dan tahan sampai 10 juta kali pengetikan. Jemari lentik bisa menari dengan aman.  

Touchpad besar dan responsif, nyaman untuk bekerja.
Nah, istimewanya lagi, touchpadnya yang sangat responsif, macam layar smartphone aja. Dan akurasinya tinggi. Hm, nggak perlu khawatir ya “meleset-meleset” ketika “klak-klik”. Belum lagi ukurannya lebih besar dibandingkan touchpad pada notebook lainnya yang berukuran sama. Ini karena fitur teknologi ASUS Smart Gesture sehingga touchpadnya lebih intuitive dan memiliki banyak fungsi macam layar smartphone.

PENAMPILANNYA KECE

Nah, kemampuan notebook yang satu ini memang tidak usah diragukan lagi, tapi karena notebook ini akan jadi benda yang nempel sama saya kemana-mana, rasanya pengen dong ditemani sama yang punya penampilan kece. Biar makin semangat kerjanya. 

ASUS E202 ini penampilannya simpel, elegan dengan desain tipis dan fanless. Artinya ketika dinyalakan nggak bunyi-bunyi berisik. Nah, notebook yang hadir dalam versi Windows 10 dan juga DOS ini tersedia dalam pilihan warna Silk White, Dark Blue, Lightning Blue dan Red Rouge.

Semua pilihan warnanya kece banget!
Tinggal pilih deh, mana yang sesuai dengan kepribadian masing-masing. Konon, warna favorit bisa menunjukkan karakter seseorang. Misalnya orang yang menyukai warna biru berarti cerdas dan dapat dipercaya, sementara penyuka warna merah adalah pribadi yang percaya diri dan ekspresif. Sedang penyuka warna putih adalah pribadi yang penuh kehati-hatian dan prefeksionis.

Tapi melihat empat pilihan warna kece ASUS E202 bikin saya pengen punya semuanya! Hehe. Kalau kamu suka yang mana?  

EKONOMIS
Wah, puas deh dengan informasi tentang (calon) notebook andalan saya ini. Eh tapi tunggu dulu, dengan aneka kelebihan dan performa mumpuni di atas, harganya bikin tabungan jebol nggak nih? Ternyata aman, Mbak dan Mas! ASUS E202 bisa dipinang dengan harga tiga jutaan rupiah saja. Ah, legaa... Ekonomis ya!

Bakal lebih produktif dan kreatif dengan ASUS E202
Hmm kalau begini nggak perlu ditunda terlalu lama kayaknya untuk punya notebook ini. Saya nggak pengen lagi ide menulis menguap, kerjaan gambar rumah nggak selesai, atau telat kirim invoice (penting nih! Hihi) ketika jauh dari PC. Kan ada ASUS E202.

Saya semakin yakin, dengan Notebook ASUS E202, bisa tetap produktif dan kreatif di mana-mana!

Blog Competition ASUS E202 by uniekkaswarganti.com

Friday, June 9, 2017

Identifikasi Kangenmu



Definisi kangen menurut Kbbi adalah rindu atau ingin sekali bertemu.

Kalau dalam arisan Blogger Gandjel Rel kali ini temanya sesuatu yang paling kamu kangenin, berarti ya sesuatu yang paling ingin kau temui. Duo bersaudara Rizka Alyna yang bisa dicek tulisan-tulisannya di http://www.rizkaalyna.com/ dan Alley  di https://hanalle.com yang memberikan tema ini. 

Selama tiga putaran arisan blog, baru yang ini sampai di hari terakhir belum dapat bahan tulisan apa-apa. Bukan karena nggak ada yang dikangenin, tapi karena terlalu banyak “daftar kangen”-nya. Apalagi saya termasuk orang yang gampang kangen. Baru ninggal anak di rumah beberapa jam aja, saya sudah kangen. Baru pulang dari pantai, kangen main air. Baru nggak makan brownies beberapa menit, kangen pengen makan lagi. Hehe. 

Kangen itu ada yang bikin nyesek di hati, ada yang bikin hari-hari jadi optimis. Yang pertama susah terobati, yang kedua ada kemungkinan terobati. 

Coba diidentifikasi kangenmu tipe yang mana?

Kangen yang pertama, biasanya karena you have to accept the fact that that certain things will never go back to how they use to be. Udah nggak mungkin bisa balik lagi seperti dulu, tapi kangen. Baper kan endingnya? Misalnya kangen sama seseorang yang sudah dipanggilNya duluan, kangen sama masa kecil, kangen berat badan kembali seperti dulu.. (eh).  Kangen-kangen macam ini tuh bikin hati kita mellow. 

Misalnya, kalau saya kangen tipe pertama ini kangen sama Kempo. Kempo itu salah satu cabang olahraga beladiri yang asalnya dari Jepang. Di bawa ke Indonesia oleh mahasiswa Indonesia yang belajar di Jepang. Salah satu tokohnya adalah Ginandjar Kartasasmita. Hehe.. Masih adalah yang nyantol di ingatan tanpa perlu tanya Mbah Gugel. Sejarah Kempo ini termasuk bahan ujian kenaikan tingkat lho. 
 
Bersama pasangan Embu: Nenny. Sekarang kamu di mana ya? Btw jangan lihat tahun-nya terus bilang: Hah? Itu kan tahun aku lahir.

Saya stop latihan Kempo bisa dibilang tiba-tiba. Karena ada sesuatu hal yang bikin saya nggak (sampai hati) latihan lagi. Padahal selama tiga tahun sebelumnya, Subuh nongkrong di stadion demi Kempo juga dijalanin. Sekujur tubuh memar, kaki melepuh kepanasan kena aspal, plus lutut cedera juga nggak bikin kapok. Dan sampai bertahun-tahun kemudian, saya masih suka kangen. 

Apa yang bikin kangen? Suasananya, pertemanannya, bahkan sampai capek dan sakit-sakitnya aja bikin kangen. Kenapa nggak balik aja latihan lagi? Nah, ini, I can’t, though. Kangennya masih suka muncul sekarang ini. Terus caranya gimana supaya terobati? 

Dulu kalau kangen kadang mampir ke dojo, lihat teman-teman latihan. Di mana-mana jadi aware banget sama yang berbau Shorinji Kempo, dan rajin lihat foto-foto lama bareng teman-teman. Terobati dikit. Tapi tetap nggak akan sama lagi. 

Lalu kangen yang kedua, kangen yang bikin hari-hari optimis. Biasanya ini terjadi karena ada harapan untuk bertemu atau kembali lagi. Masih ada obatnya, gitu. 

Di Multazam, saya pernah berdoa, agar Allah mengijinkan saya kembali lagi ke Baitullah bersama Ibu dan laki-laki yang diridhoiNya untuk jadi suami saya. (Jadi ceritanya waktu itu saya belum nikah). Seperti diketahui, Multazam itu adalah bagian tembok atau dinding Ka’bah yang terletak di antara Hajar Aswad dengan pintu Ka’bah. Tempat ini dinyatakan Rasulullah sebagai tempat yang paling mustajab untuk berdoa. 

Kenapa sih kangen ke Baitullah lagi? Bukannya di sana itu panas? Bukannya capek ya mesti bolak-balik ke masjid saban dengar adzan? Bukannya jadi kurang tidur? Memang. Tapi ah tapi.. waktu memandang Ka’bah untuk pertama kalinya, merasakan hembusan semilir ketika thawaf, segarnya zam-zam membasahi kerongkongan,… Klise.. klise.. tapi itu sungguhan bikin kangen. 

Harus puas dengan foto-foto di luar Masjidil Harom. Jaman itu, kamera dan ponsel nggak boleh di bawa masuk. Di depan pintu akan diperiksa.

Semua orang juga tahu untuk bisa pergi ke Makkah dan Madinah, perlu upaya yang tidak mudah. Kadang niat sudah kenceng, sarana belum ada. Kadang sarana ada, niat belum datang. Seorang sahabat  rajin berdoa sambil melafalkan Surat Al Baqoroh ayat 128  dan berharap agar dapat “undangan” itu lagi. Undangan untuk umroh yang pertama didapat dari hadiah lomba menulis. Sungguh beragam memang cara Allah mengundang kita ke sana. 

Kini meski waktu berlalu, dan kangen saya untuk kembali ke sana belum terpenuhi, saya harus tetap optimis. Di bulan Ramadan ini, semoga terkabulkan bersama dengan doa-doa sahabat-sahabat saya yang lain yang selalu ingin kembali ke Baitullah. Biar kangen kita terobati, ya kan? 

Sometimes the best things happen, when you least expect it.

Eh, kalau sama itu,.. kangen nggak ya?




Wednesday, May 17, 2017

Sepeda



Kring kring kring ada speda
Spedaku roda tiga
Kudapat dari ayah
Karena rajin bekerja.

Petikan lagu anak-anak gubahan Bu Kasur membawa saya pada kenangan masa kecil, yang sangat dekat dengan sepeda. Tidak ingat betul sih, kapan persisnya mulai bisa naik sepeda roda dua. Tetapi waktu usia saya sekitar enam tahun, terjadi insiden pertama dalam sejarah saya bersepeda. Saya dan sepeda kecebur got di dekat rumah. Sepedanya kecil, barangkali jenis roda tiga yang kemudian dilepas roda tambahannya. Gotnya sempit, tapi berlapis semen kasar. Akibatnya darah mengucur deras dari bagian lengan. Entah persisnya di mana, karena sekarang tidak saya temukan bekas lukanya.

Pakai sepeda kecil itu juga -bersama adik laki-laki- saya menciptakan aneka gaya bersepeda. Ada gaya “F*nta”, “Spr*te”, dan “C*ca-cola”. Kenapa namanya itu? Ya soalnya kalau waktu itu kami diijinkan minum salah satu dari ketiga minuman bersoda itu, rasanya keren. Gaya “F*nta” berarti saya duduk di sadel dan kaki mengayuh pedal, sementara adik saya duduk di stang dan mengendalikan kemudi. Gaya yang lain, adalah kombinasi antara keinginan keren,  iseng, dan nekad lainnya. Akibat aneka gaya absurd itu berkali-kali kami nyusruk di jalanan. Walaupun hanya di jalanan depan rumah. Wilayah yang dianggap aman buat sepedaan. Oiya, meski  begitu kami berdua sempat dikejar anjing. 

Selepas melewati masa diantar jemput sekolah pakai becak, jangkauan wilayah bersepeda saya lebih luas lagi, dari rumah ke sekolah. Untunglah karena tinggal di Solo, jalanan rata, dan jaraknya relatif dekat kemana-mana. Tidak seperti di Semarang yang jalanannya mendaki bukit melewati lembah…

Masa bersepeda ke sekolah dimulai sekitar kelas empat SD. Sepeda saya sudah di-upgrade jadi sepeda ukuran dewasa. Masih ada lho sepedanya sekarang. Sepeda itu model cowok, yang gagangnya lurus, bukan model cewek, yang miring ke bawah. Pernah seorang guru berkomentar soal itu. Tapi toh saya tidak merasa kerepotan. 
 
gambar diambil dari: bowgank.wordpress.com
Masa-masa ini adalah masa keemasan saya dan sepeda. Selain ke sekolah, ke warung, main ke rumah teman, les, pramuka, semua naik sepeda. Teman-teman bersepeda saya ya teman-teman SD yang rumahnya cukup dekat, masih dalam radius 5 km. Kadang di hari Minggu kami ampir-ampiran (saling menjemput) lalu bersepeda keliling kota. 

Karena jam terbang bersepeda lumayan banyak, insiden juga mulai terjadi. Kalau sekedar lutut dan sikut baret sih sudah biasa. Pernah suatu kali paha saya sobek tergores stang. Lumayan yang ini bekas lukanya masih ada. Alhamdulillah tidak ada pengalaman yang lebih mengerikan dibandingkan itu. 

O iya, jaman itu ada istilah "pajak" sepeda. Semacam stiker yang kudu ditempel di sepeda dan kita kudu beli tiap tahun. Kadang suka ada "cegatan" petugas yang memeriksa apakah sepeda yang lewat sudah ditempel stiker ini atau belum. Pernah saya dan rombongan teman kabur dari "cegatan" macam ini juga. Hihi.

Di antara kisah menyenangkan dengan sepeda itu, ada beberapa yang sangat membekas buat saya. Salah satunya waktu saya, dan dua orang sahabat, H dan B, bersepeda ke rumah sakit untuk menjenguk Yanda. Yanda ini adalah pembina Pramuka di SD kami, yang sepanjang ingatan saya, sudah sepuh. Kami berangkat naik dua sepeda. Saya lupa siapa membonceng siapa, tapi yang jelas, waktu pulang hujan turun deras sekali. Sepertinya H sedang tak enak badan, dan B ini kan pakai kacamata minus. Jadi meskipun mereka berdua laki-laki, waktu pulang saya memboncengkan H, sambil menggiring B biar tetap jalan di jalur yang aman. (Ingat nggak ya mereka hehehe)

Bersama ibu dan adik, saya juga kadang bersepeda keliling kota. Dan end-up dengan jajan tongseng kambing terenak sepanjang ingatan saya. 

Pengalaman deg-degan dengan sepeda adalah waktu harus ngebut balik ke rumah dari sekolah mengambil kartu Ebta yang tertinggal. Lumayan jaraknya 3 km, bolak-balik jadi 6 km. Bikin saya keringetan parah waktu tesnya dimulai. 

Masa bersepeda berlanjut sampai SMP.  Daerah jajahan juga berkembang. Bersama geng SMP yang rumahnya satu komplek, kami kompak sepedaan kemana-mana. Waktu itu kami ke bioskop saja naik sepeda, lho.
Waktu SMP ini, selain pp ke sekolah, saya rutin seminggu tiga kali bolak-balik bersepeda 8 km jauhnya untuk latihan Kempo. Siang-siang panas jam dua berangkat, bawa ransel dan kadang jerigen berisi jatah air minum, dan baru pulang selepas Magrib. Kalau musim hujan? Ya terima nasib, laah. 

Ehm.. dengan bersepeda juga, seseorang.. ah, nggak jadi. Hahaha.

Ah, banyaknya kenangan masa kecil saya bersama sepeda. Semua mengingatkan saya pada masa kecil yang seakan tidak mengenal takut, rasa was-was, apalagi lelah. Sepeda memberikan perasaan dekat pada banyak sahabat saya, yang pernah sekayuh berdua -litteraly-, yang berombongan ke tiap sudut kota, yang saling membonceng, tanpa ada rasa lain selain pertemanan itu.  Hingga yang sekarang terkenang membuat saya tak lepas senyum ketika menuliskan ini. Terima kasih untuk Mbak NiaNurdiansyah, dan Mbak Anjar Sundari yang telah memilih tema ini untuk #ArisanBlogGandjelRel. 

Namun akhirnya, “setelah negara api menyerang” jaman bersepeda menemui akhirnya. Hehe. Tibalah masanya sebuah sepeda bermesin, bernama sepeda motor nangkring di teras rumah. Perubahan dari sepeda ke sepeda motor ini juga seperti menandai akhir masa kecil saya, menjadi awal menuju masa remaja. Masa di mana rasanya ingin bergerak lebih cepat, dan berjalan lebih jauh lagi. 

Meski begitu saya tidak pernah lupa pada tawa yang menyertai tiap kayuhan kaki. Ketika setiap keringat yang menetes memberikan kenangan yang kini tak pernah lepas indahnya. 

Kulit wajah kini tak lagi terbakar matahari, tapi masih terasa sejuknya angin yang berhembus di sela rambut dan jaket yang rapat membalut. 

Ketika menatap segores luka di kaki saya, yang mengingatkan bahwa pernah ada sebuah masa. Ketika waktu dan makna sama-sama berjalan lambat, hingga sempat membangun sebuah ruang yang selalu berbunga di hati saya. 

I have you in my mind, sahabat-sahabat bersepeda saya. *jadi mellow
Amigos para siempre.

Saturday, March 4, 2017

Jepret 3 Kuliner Favorit di Solo

http://www.gandjelrel.com/2017/02/blogging-competition-jepret-kuliner-nusantara-dengan-smartphone.html


Rasanya nggak akan ada yang protes kalau saya bilang kota Solo adalah salah satu kota paling favorit untuk wisata kuliner. Setiap ada tamu dari luar kota mereka pada bela-belain untuk mengalokasikan hari khusus untuk kulineran di Solo.
Sebagai orang yang pernah tinggal di Solo, susaaah rasanya untuk memilih beberapa kuliner saja. Semuanya mulai dari jenis appetizer, main course sampai dessert di Solo itu uenak banget. Ada cabuk rambak, selat solo, bubur lemu, soto Gading, nasi liwet, sate buntel, serabi notosuman, dawet selasih, dan daftarnya ini kalau diteruskan bisa berkilo-kilo meter (hiperbola). Mau cari makanan yang buka tengah malam, dini hari, siang, sore, ada. Kota Solo memang nggak ada matinya.
Jadi boleh ya, saya sebut Solo itu gudangnya kuliner nusantara.

Karena itu dengan sangat terpaksa, saya cuma memilih tiga kuliner khas Solo di bawah ini sebagai favorit saya mulai dari yang sarapan di pinggir jalan, makan siang di warung, sampai makan malam di restoran.


1. Nasi Liwet

Pagi-pagi sarapan nasi liwet, sedaaap.

Penjual nasi liwet di Solo mudah dicari mulai pagi sampai malam. Kalau saya seringnya makan kuliner yang satu ini untuk sarapan. Kalau ada tamu luar kota, baru malam-malam cari nasi liwet di kawasan Keprabon yang menurut saya tempat turis hehe.
Kalau nggak mau kehabisan, datangnya pagi, ya.

Nah nasi liwet favorit saya adalah tempat ibu "ini" (maap lupa namanya). Beliau buka di depan warung (orang lain) mulai jam setengah 6 pagi sampai habis dagangan (biasanya jam 8 udah habis) di jalan Sam Ratulangi deket rel kereta belakang stasiun Purwosari.
Nasi liwet Solo itu, uborampenya banyak, selain nasi yang dimasak dengan santan dan bumbu yang wangii, telur kukus, areh yang guriiih (saya selalu minta nambah), suwiran ayam, dan sayur -sambel goreng- pepaya muda. Kalau saya paket standar ini udah lebih dari cukup. Tapi masih ada telur rebus, aneka potongan bagian ayam sampai uritan, buat yang suka.
Harganya? Nggak sampai 10rebu buat paket standar.

2. Tahu Kupat
Tahu kupat, minumnya es beras kencur.. Segerrr!

Tahu kupat yang paling sering saya sambangi adalah tahu kupat (sebelah) Masjid Solihin. Bukanya rada siang jadi pas untuk makan siang deh. Tahu kupat itu isinya irisan tahu goreng, ketupat, bakwan, mie, kacang goreng, trus disiram kuah kecap (pakai bumbu bawang). Kalau yang suka pedas boleh tambah cabai rawit sesuka hati. Bisa juga pakai telur dadar. Favorit saya bakwannya. Harga? Nggak sampai 10ribu juga.

3. Gudeg Adem Ayem

Nggak perlu diet kalau lagi kulineran di Solo
Gudeg Adem Ayem ini adanya di resto Adem Ayem di Jalan Slamet Riyadi. Gudeg Adem Ayem juga sudah tersedia sejak pagi. Tapi gudeg ini tetap lezat buat dimakan malam hari. Kalau ingin beli untuk oleh-oleh, ada paketan gudeg kendil yang bisa dipilih.
Kenapa ngomongin kuliner gudeg nggak di Yogya aja sih? Meski dua-duanya enak, gudeg Solo ini di lidah saya terasa lebih gurih ketimbang gudeg Yogya yang manis. Dan bedanya lagi, gudeg Solo lebih "basah" ketimbang gudeg Yogya yang cenderung kering.
Namanya gudeg ya terbuat dari nangka muda yang dimasak santan. Berjam-jam lho waktu yang diperlukan sampai warnanya bisa coklat begitu. Bisa ditambah suwiran ayam, telur, tahu, atau ati ampela. Kalau di Adem Ayem yang istimewa kreceknya. Hmm pedas-pedas sopan tapi menggoda. Harga? 30ribuan aja tuh buat sepiring nasi gudeg.

Nah, tiga makanan di atas nggak butuh pengakuan kalau rasanya enaak buanget. Saking enaknya kadang makanan belum sempat dijepret keburu habis dimakan.Padahal perlu banget tuh kita menjepret kuliner untuk ikut mengenalkannya kepada dunia. Jangan sampai kuliner nusantara lenyap tak berbekas karena terlindas makanan-makanan dari luar negeri yang sekarang juga makin menjamur di mana-mana.

ASUS Zenfone, Teman Setia Jepret Kuliner Nusantara

Biar selalu siap kapanpun dan dimanapun rasanya perlu ya kita punya smartphone yang canggih supaya hasil jepretan kita nanti bak karya fotografer profesional. Seperti ASUS Zenfone tuh yang punya teknologi PixelMaster Camera.

Teknologi ini memungkinkan amatiran seperti diriku bisa menunjukkan kuliner nusantara dalam penampilan terbaiknya.

Dengan elemen optik yang berkualitas tinggi, hasil jepretan kuliner kita akan sangat detail sehingga akan tambah bikin ngiler penontonnya. Hehe.
Jangan khawatir juga dengan minimnya cahaya, terutama misal kita hunting kuliner malam-malam, ada mode low light yang akan meningkatkan kepekaan cahaya, mengurangi noise, dan meningkatkan kontras warna. Jepretan kita akan tetap cakep.
Dan yang ini paling sering saya alami, jepretan nggak fokus alias blur karena motret sambil buru-buru. Kalau pakai ASUS Zenfone, ada teknologi image stabilizer yang membuat gambar tetap jernih meski kamera bergerak. Hasil jepretan kita tetap aman. Itu baru tiga fitur aja lho, masih banyak fitur dari teknologi PixelMaster Camera di dalamnya.


Sip banget dah, ASUS Zenfone ini. Benar-benar smartphone canggih yang bisa bikin jepretan kuliner nusantara kita seperti foto profesional.

Seperti kota Solo, ASUSZenfone memang nggak ada matinya.

Artikel ini diikutsertakan pada Blogging Competition Jepret Kuliner Nusantara dengan Smartphone yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel.

Thursday, March 2, 2017

Jepret Kuliner Nusantara: Yuk bilang: Tempeee!

http://www.gandjelrel.com/2017/02/blogging-competition-jepret-kuliner-nusantara-dengan-smartphone.html 



Sama seperti budaya nusantara lainnya seperti tari-tarian dan barang kerajinan, ragam kuliner nusantara nyaris tak terhitung banyaknya. Mulai dari rendang Padang yang sudah terkenal di dunia internasional dan dapat penghargaan dari majalah Time sebagai makanan terlezat, sampai kuliner yang semakin langka seperti sayur babanci dari Betawi. Setiap jengkal tanah nusantara dari Sabang sampai Merauke telah menghasilkan bumbu-bumbu dan bahan-bahan khas, terwujud dalam setiap masakan Indonesia yang tidak mudah dicari padanannya di negara lain.



Untunglah di era kebangkitan sosial media sekarang ini, keberadaan netizen turut membantu  mengenalkan aneka ragam kuliner nusantara. Ribuan foto makanan yang diunggah netizen setiap harinya di sosmed patut diacungi jempol, karena dengan demikian aneka kuliner nusantara akan makin dikenal oleh bangsanya sendiri, juga bangsa lain. Apalagi kalau foto-foto kuliner itu disertai penjelasan lebih lanjut tentang apa dan bagaimana kuliner itu dibuat. Karena menurut pakar kuliner William Wongso, kuliner bukan sekedar jalan-jalan dan makan-makan, tetapi juga tentang menggali keunikan rasa dari makanan tersebut. Jadi lain kali kalau jepret kuliner nusantara, mesti sekalian tanya bahan-bahan dan resep sama kokinya, tuh. 

Apa sih susahnya jepret makanan aja?



Netizen yang suka mendokumentasikan makanan, pasti sudah pernah merasakan repotnya jungkir balik memotret makanan dengan aneka pose heboh bin absurd. Seringkali fotografernya berbekal kamera DSLR harus berdiri di kursi, kadang yang ekstrem di atas meja, sampai nunduk-nunduk dan senggol menyenggol dengan pengunjung di sebelahnya. Bayangkan kalau dilakukan di restoran yang ramai atau warung sempit. Hehe. Selain itu rasanya agak repot kalau  harus terus menenteng kamera kemana-mana. Kadang kan kuliner lezat muncul tak diduga. Jadi rasanya perlu ya, ada perangkat secanggih kamera DSLR tapi bisa dikantongin, jadi lebih praktis.



Di sini lah pentingnya kita berbekal smartphone canggih, macam ASUS ZenFone yang punya teknologi PixelMaster Camera. Seperti saya nih, misalnya, yang masih suka malu-malu kalau mau jepret kuliner di restoran, jadi bawaannya buru-buru. Boro-boro motret pakai kamera DSLR, pakai ponsel aja suka grogi. Akibatnya? Keringat dingin menetes, tangan goyang, gambarnya jadi nggak fokus dan blur. Dengan teknologi image stabilizer dalam smartphone ASUS ZenFone, goyangan yang terjadi bisa diminimalkan. Hasilnya, foto jadi lebih tajam.



Salah satu fitur lain yang bermanfaat banget adalah mode low light yang memungkinkan smartphone ASUS ZenFone menghasilkan gambar yang lebih jernih dalam kondisi minim cahaya. Misalnya lagi di kafe yang agak remang gitu, masa iya kita ngotot mau bawa-bawa lampu sendiri? Cukup bawa ASUS ZenFone, hasil gambarnya bisa lebih jelas meski kondisi ruangan gelap.

Tempe, Kuliner Nusantara Pilihanku


ASUS ZenFone 3, Tempe, dan Kopi biar nggak ngantuk.
Kok cuma tempe? Sederhana banget sih?  Itu sih di warung sebelah juga ada. Tiap hari juga emak di rumah juga nyuguhin tempe.  


Berbekal petikan kata-kata mutiara:I find happiness in the simplest of things”, saya juga menemukan tempe adalah makanan sederhana yang sukses membuat saya bahagia. Bahagia di lidah, bahagia di dompet. Dan tempe itu termasuk warisan kuliner nusantara lho. Siapa hayo yang rela kalau tempe diakui bangsa lain? Sejarawan Ong Hok Ham pernah membuat sebuah tulisan yang berjudul “Tempe Sumbangan Jawa untuk Dunia”. Tuh, kan, jangan sepelekan sumbangsih tempe untuk kekayaan kuliner nusantara, bahkan dunia.



Tempe memang seakan pernah jadi simbol keterbelakangan bangsa Indonesia. Bahkan pada tahun 60-an Bung Karno berpidato agar bangsa Indonesia “Jangan menjadi bangsa tempe” yang berarti jangan mau jadi bangsa yang murahan, rendah diri, dan terbelakang. Gara-garanya tentu karena tempe dianggap makanan rakyat jelata. Konon tempe terbentuk secara “tidak sengaja” dari buangan limbah tahu yang ditumbuhi kapang. 


Tempe, dalam layar smartphone ASUS Zenfone3, Berkat teknologi PixelMaster Camera gambarnya jadi terang meski dalam keremangan dapur. Kelihatan kan, cantik kedelainya?

Meskipun terbentuk tidak sengaja dari limbah, tempe masa kini justru disebut sebagai superfood. Salah satunya karena kandungan protein tempe yang mudah untuk dicerna tubuh, dan masih banyak manfaat tempe lainnya. Tempe juga mudah diolah, dan ditemui dalam aneka kuliner nusantara. Salah satu kuliner tempe kegemaran presiden namanya “Sate Kere”.  Bisa ditemukan di Solo dan sekitarnya.  Kenapa disebut kere? Karena alih-alih dibuat dari daging seperti sate kebanyakan, sate kere dibuat dari tempe gembus. 

Tempe goreng kering pelengkap aneka kuliner, salah satunya untuk dimakan bersama soto ayam.



Si Lezat Mendoan


Orang banyak kenal mendoan berasal dari daerah Banyumas. Di sana orang bilang mendo yang maksudnya lembek. Memang kalau dilihat penampakannya, tempe bersalut tepung ini seperti makanan setengah matang. Tempe dicelup tepung berbumbu, ditambahi irisan daun bawang, digoreng sebentar saja dalam minyak panas. Mendoan paling sedap dimakan selagi hangat, pakai sambal kecap atau cabai rawit hijau.


Di daerah Sawangan, Purwokerto, Jawa Tengah berjejer toko-toko oleh-oleh yang jualan mendoan. Di sana kita bisa makan mendoan hangat yang baru saja digoreng di depan kita. Enaknya lagi, buat yang ingin membawakan mendoan sebagai oleh-oleh, bisa membeli paket mendoan untuk digoreng sendiri di rumah.


Isi paketnya berupa tempe yang belum matang alias masih di dibungkus daun, tepung mendoan, dan kecap sambal. Tempenya juga bisa dipilih yang sesuai dengan kapan akan digoreng. Misal kita beli hari Jumat untuk tempe yang baru “jadi” hari Minggu. Jadi nanti di hari Minggu si tempe masih segar ketika dimasak. Dengan uang sekitar 30 ribu rupiah, kita sudah bisa dapat sepaket “Selfmade” mendoan.





Mendoan, dimakan dengan ketupat atau lontong, plus teh panas. Uh, heaven!
Kalau sedang di Purbalingga, menu sarapan mendoan plus lontong atau ketupat adalah yang paling saya tunggu-tunggu. Tetangga mertua di sana adalah pembuat mendoan dengan rasa paling enak menurut saya. Akhirnya pada suatu sore yang mendung, hehe, saya mengulik rahasianya bikin mendoan. Katanya, tepungnya adalah tepung beras (yang digiling sendiri kalau pas sempat kalau enggak pun pakai kemasan tak apa-apa) dan bumbunya cuma bawang putih, garam, plus ketumbar yang diulek sampai halus. Nah, rahasianya adalah, ketumbarnya harus disangrai dulu supaya aromanya keluar dan wangi. Adonan tepungnya juga harus pas kekentalannya.



Menurut saya, yang membuat mendoan unik adalah jenis tempenya. Tempe mendoan Banyumas itu tipis dan lebar. Tempe dibungkus daun pisang, atau daun jati, dan sebungkus berisi 2 sampai 3 lembar tempe. Ketebalannya sekitar 2-3 milimeter saja, lho.  Sayangnya di Semarang cari tempe seperti itu agak sulit. Kalaupun ada, rasanya masih kurang tipis beberapa milimeter dibanding tempe mendoan dari Banyumas. (Niat banget diukur!) Kalau sudah kepepet ngidam makan mendoan, ya jadilah tempe seadanya yang dipotong setipis mungkin.



Mendoan ala-ala begini ya. Biarpun bentuk nggak karuan, sepiring juga ludes dimakan.

Oseng Tempe Kecap Di Mana-Mana



Siap-siap ditoyor pemuja kuliner sophisticated di seluruh nusantara. Tapi kembali ke prinsip awal, saya menemukan bahagia dari hal sederhana. Di minggu pertama menikah dulu, menu ini adalah masakan pertama saya yang dipuji suami. Hehe. Dan lagi menurut pengamatan saya, oseng tempe kecap turut ambil bagian dalam banyak hidangan kuliner nusantara. Coba lihat nasi kuning, pasti ada oseng tempenya. Nasi dus selametan, nasi rames, nasi kucing, bahkan kadang di dalam lontong opor, you name it.



Oseng tempe kecap sangat mudah dibuat. Tempe dipotong kecil sesuai selera, dioseng bersama bumbu-bumbu, bawang merah, bawang putih, cabai merah, garam dan tentu saja kecap. Sedap!


Aneka “pose” di oseng tempe kecap. Hihi.



Nah, tidak harus selalu pergi jauh kan, untuk mendapatkan kuliner nusantara buat diabadikan. Tapi  meskipun kuliner nusantara ini dibikin di rumah, tetap saja butuh usaha untuk menjepretnya. Jepret kuliner itu mau nggak mau akan nyerempet-nyerempet sama pengetahuan food photography. Obyek fotonya harus diperlakukan seperti model yang akan difoto dengan aneka properti.  Posisinya harus diubah-ubah. Perlu berkali-kali jepret juga untuk bisa menemukan hasil foto yang paling pas.  

Pose Termanis Si Kuliner Tempe
Kalau untuk urusan jepret kuliner nusantara ini, tak ada lain, saya masih harus sering berlatih. Karena Practice makes perfect


Dan boleh ya, berdoa punya smartphone canggih yang keren macam ASUS ZenFone yang akan bikin acara jepret-jepret kuliner ini jadi seru dan keren!



Siap difoto yaa…. Bilang: “Tempee!”



*Jepret!*



Artikel ini diikutsertakan pada Blogging Competition Jepret Kuliner Nusantara dengan Smartphone yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel